Secuil Kisah Ka’ab Bin Malik : Dikucilkan Dari Pergaulan

Assalamualaykum ikwani wa akhwati fillah. Sahabat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam merupakan sosok yang istimewa, selain membenarkan risalah Nabi, ia juga ikut menemani dakwah dan menjaga kemaslahatan umat, salah satunya dari kisah Ka’ab Bin Malik Radiallahu Anhu.

Dikucilkan Dari Pergaulan

Ka’ab bin Malik Radhiyallahu anhu, adalah salah seorang sahabat Nabi yang setia. Ia selalu ikut berperang bersama Nabi dalam berbagai medan perang. Hanya sekali ia absen ketika terjadi perang Tabuk yang terjadi pada bulan Rajab 9 Hijriyah. Dan itu ia sangat menyesal sekali, padahal ia sudah mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari dengan dua ekor kuda sebagai tunggangan dalam perang nanti.

Ketika Nabi mengerahkan kaum muslimin untuk berangkat ke Tabuk dalam rangka menghadapi musuh-musuh Islam, segenap kaum muslimin menyambutnya dengan suka cita. Berbagai sumbangan terus berdatangan. Tercatat antara lain, sumbangan dari Usman bin Affan sebanyak 900 ekor unta dan 100 ekor kuda, serta uang 1.000 dinar. Abu Bakar Ash-Shiddiq menyerahkan seluruh harta kekayaannya sehingga yang tersisa hanyalah pakaian yang melekat di badannya serta bekal secukupnya. Begitu pula dengan Abdurrahman bin Auf, dan sahabat-sahabat lainnya.

Menjelang keberangkatan pasukan, di Madinah sedang mengalami musim kemarau yang panjang dan suhu udara yang sangat menyengat. Padahal perjalanan ke Tabuk cukup jauh, dan musuh yang dihadapi lebih besar dan kuat. Kaisar Heraclius menyiapkan tidak kurang dari 40.000 tentara dengan perlengkapan perang dan logistik yang sangat memadai.

Meski demikian, kaum muslimin tetap samangat menghadapinya. Mereka berlomba-lomba berjihad bersama Nabi. Sehingga nyaris seluruh kaum pria turut serta, hanya anak-anak dan orang tua yang telah udzur saja yang tidak ikut berperang. Mereka tinggal di Madinah bersama kaum muslimah.

Ketika Nabi mulai memberangkatkan pasukannya menuju ke Tabuk, Ka’ab tenang saja. “Biarlah. Nanti, sehari atau dua hari lagi, aku akan menyusul mereka’, kata Ka’ab dalam hati.

Dan sesuai dengan rencana, Nabi lalu memerintahkan pasukannya berangkat ke medan perang. Sedianya, Kaa’ab mau menyusul, namun muncul kemalasannya, sehingga ia gagal berangkat ke medan perang. Meski demikian, Ka’ab masih tetap tenang, sembari jalan-jalan keliling Madinah.

Nah, ketika sedang jalan-jalan di sekitar Madinah, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Setiap bertemu dengan orang, tak ada yang menegurnya atau ditegurnya. Ka’ab heran dan sedih: ada apa dan mengapa bisa terjadi ?

Rupanya Ka’ab tidak menyadari, bila seorang pria dewasa, muslim tidak berangkat ke Tabuk bersama Nabi, satu di antara tiga kemungkinan: (1) dia seorang munafik, atau (2) orang tua renta, atau (3) orang sakit yang mendapat keringanan dari Allah. Dengan tiga kemungkinan itu, Ka’ab merasa dirinya sehat wal afiat, masih muda, dan bukan golongan orang munafik.

Ternyata di masa itu ada tiga orang sahabat Nabi yang setia dan sehat wal afiat tapi tidak ikut berangkat ke Tabuk. Yakni, Ka’ab bin Malik, Mararah bin Ar-Rabi’, dan Hilal bin Umayyah. Dan ketiganya menerima nasib yang sama: Tidak seorang pun penduduk Madinah yang mau menegurnya atau ditegurnya.

Lambat laun rasa keheranan Ka’ab pun terjawab: Mengapa orang-orang Madinah “mlengos” terhadap dirinya?. Tidak lain karena penduduk Madinah ta’at pada Allah dan Rasul-Nya. Dan Nabi Shallallahu alaihi wa-sallam telah melarang kaum muslimin berbicara dengan ketiga orang tadi karena ketiganya tidak ikut berperang bersama Nabi di Tabuk. Itulah sanksi bagi mereka yang tidak ikut berperang bersama Nabi.

Istri ketiga sahabat itu juga menerima nasib yang sama. Mereka dikucilkan selama 50 hari dari pergaulan, sehingga dunia bagi ketiga orang itu berikut istri-istrinya terasa sangat sempit sekali.

Sanksi itu berlangsung selama 50 hari hingga Nabi dan pasukannya kembali ke Madinah. Ka’ab menuturkan kisah sedih yang menimpa dirinya:
“Selama masa pengucilan, dua kawan kami tidak berani keluar rumah. Keduanya mengurung diri di dalam rumah, menangis terus menerus. Sedang aku tetap keluar rumah, ikut shalat berjamaah dan pergi ke pasar. Meski demikian, tidak ada seorang pun yang mau menegurku apalagi berbicara denganku.

Suatu ketika aku menemui Nabi dan mengucapkan salam kepada beliau, ketika beliau berada di majelisnya sehabis shalat. Saat itu aku bertanya dalam hati: ‘Apakah beliau berkenan menggerakkan bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak ?’. Aku lalu shalat dekat beliau sambil melirik ke arah beliau. Jika aku sedang khusyu’ menghadap ke arah kiblat, beliau melirik ke arahku, dan jika aku menengok ke arah beliau, beliau memalingkan muka dan tidak mau memandangku.

Setelah lama keadaan seperti itu berlangsung, aku memanjat dinding rumah Abu Qatadah, sepupuku dan orang yang paling kucintai. Ketika aku mengucapkan salam, dia juga tidak mau menjawab. Aku lantas bertanya: ‘Wahai Abu Qatadah, demi Allah aku memohon kepadamu, apakah engkau tahu apa yang paling disukai Allah dan Rasul-Nya ?’.

Abu Qatadah diam saja. Kuulangi lagi, dia tetap diam. Barulah ketiga kalinya dia berkata: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui’.

Aku berbalik sambil meneteskan air mata dan kembali merangkak ke dinding rumahnya. Keadaan ini terus berlanjut hingga 50 hari lamanya.

Suatu hari seorang utusan Rasul datang menemuiku, dan berkata: ‘Rasulullah memerintahkan agar engkau menjauhi istrimu’.
Aku bertanya: ‘Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang harus kuperbuat ?’
Utusan itu menjawab: ‘Tidak, tapi jauhilah dan jangan mendekatinya’.

Larangan itu juga disampaikan kepada dua kawanku yang sama-sama dikucilkan.
Aku berkata kepada istriku: ‘Pulanglah kamu ke keluargamu dan tetaplah di sana sampai Allah memutuskan masalah ini”.

Keadaan yang demikian terus berlanjut hingga genap 50 hari. Nasib istri Ka’ab rupanya sama dengan suaminya. Tidak ada yang mau menegur atau ditegurnya. Inilah ujian berat yang diterima seorang mukmin yang tidak ikut berperang bersama Nabi-Nya, Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

Berakhirnya Masa Pengucilan

Ka’ab bercerita lebih lanjut: “Selesai shalat subuh, ketika aku sedang duduk dengan perasaan gundah gulana, jiwa yang tertekan, dan bumi yang terasa sempit, tiba-tiba terdengar suara nyaring dari puncak gunung Sala’: ‘Wahai Ka’ab, terimalah kabar gembira’.

Seketika itu aku sujud karena merasa sudah ada jalan keluar bagiku. Rupanya sewaktu shalat subuh tadi, Allah telah menerima taubat kami bertiga dan memperbolehkan orang-orang berbicara dengan kami. Beberapa orang lalu mendatangi kami dan menyampaikan kabar gembira ini”.

Ka’ab juga mengungkapkan pengalaman lainnya pada saat berakhirnya masa pengucilan:
“Sebelum orang-orang datang, ada seseorang memacu kudanya ke rumahku untuk menyampaikan kabar gembira ini. Sementara itu, ada juga orang lain yang naik ke atas bukit dan berteriak menyampaikan kabar gembira ini. Tentu saja suaranya lebih cepat kuterima dari kedatangan orang yang naik kuda itu.

Ketika orang yang naik kuda itu tiba, saking gembiranya kulepas bajuku dan kuberikan kepada si pembawa berita gembira tadi. Padahal baju itu merupakan harta satu-satunya yang masih kumiliki saat itu. Setelah aku meminta dua lembar baju, aku pergi menemui Rasulullah. Dan ternyata di sepanjang jalan, setiap orang yang berpapasan denganku selalu mengucapkan selamat atas diterimanya taubat kami sambil berkata: ‘Selamat atas ampunan Allah yang diberikan kepadamu’.

Ketika aku masuk Masjid, kulihat Nabi sedang duduk dikeliling para sahabat. Ketika melihat kedatanganku, Thalhah bin Ubaidillah buru-buru menyongsongku dan mengucapkan selamat kepadaku. Aku langsung mengucapkan salam kepada beliau, dan dengan wajah yang berseri-seri beliau bersabda kepadaku: ‘Terimalah kabar gembira pada hari yang paling menyenangkan ini semenjak engkau dilahirkan ibumu’.

“Wahai Rasulullah, apakah kabar gembira ini datang dari engkau atau dari Allah?”
Beliau menjawab: “Itu datang dari Allah”.
Kulihat wajah beliau bercahaya, sehingga tampak seperti sepotong rembulan. Kami bisa mengenali tanda seperti itu.

Ketika aku sudah duduk di hadapan beliau, aku berkata: “Wahai Rasulullah, di antara wujud taubatku, maka aku serahkan semua hartaku sebagai shadaqah untuk Allah dan Rasul-Nya”.

Beliau bersabda: “Jika engkau menyisakan sebagian di antaranya, itu akan lebih baik bagimu”.
“Kalau begitu aku menahan bagian tanahku yang ada di Khaibar”, kataku kepada Rasulullah. “Sesungguhnya Allah telah menyelamatkan aku karena kejujuran. Maka di antara wujud taubatku ialah aku tidak akan berbicara kecuali secara jujur selama aku masih hidup”.

Demikian pengakuan jujur Ka’ab bin Malik sebagaimana diriwayatkan imam Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, dan Baihaqi, dalam kitab Mukhtashar Hayatush-Shahabat, susunan Syaikh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi dan disunting oleh Nasr Abdus-salam Nashr, dalam Sirah Shahabat. Kejadian yang dialami Ka’ab dan kedua kawannya itu diabadikan oleh Allah di dalam Kitab Suci-Nya, Al-Qur’anul Kariem:

“Dan terhadap ketiga orang yang ditangguhkan penerimaan taubat mereka hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, sedang bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah terasa sempit pula oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya,. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (QS. At-Taubah 118).

Allahu ‘alam bish-showab

Tulisan dari Almarhum Badruzzaman Busyairi

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *