Said Bin Amir : Kisah Teladan Sang Gubernur

said bin amir

Assalamualaykum Warahmatullah Wabarakatu ikhwani wa akhwati fillah. Umar bin Khattab merupakan salah seorang pemimpin yang berhasil, di samping pendahulunya Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu anhum. Daulah Islam yang begitu luas, oleh Umar  dibagi dalam beberapa wilayah, dan setiap wilayah diangkat seorang amir atau kepala pemerintahan yang bertanggung jawab langsung kepada amirul mukminin di Madinah. Salah satu wilayah yang cukup penting di masa itu, adalah Hims. Sebelum kedatangan Islam, Hims merupakan kota tua yang di dalamnya terdapat berhala besar untuk persembahan kepada matahari. Di masa kekhalifahan Umar, kota yang semula berada di bawah kekuasaan Kaisar Romawi ini telah menerima Islam (th. 14 H atau 635 M). Di wilayah itu Umar mengangkat seorang amir atau gubernur, Sa’id bin Amir bin Huzaim al-Jumahy namanya.

Suatu ketika, sebagaimana diceritakan kembali oleh Syeikh Muhammad Yusuf al-Kandahlawy dalam Mukhtasyar Hayatus Shahabat, Amirul Mukminin Umar bin Khattab berkunjung ke Hims (Suria Utara), dan menanyakan kepada penduduk tentang kepemimpinan Sa’id bin Amir.

“Wahai Amirul Mukminin, kami mengadukan empat perkara dari kepemimpinan Sa’id bin Amir. Pertama, dia selalu keluar rumah untuk menemui kami setelah hari sudah siang”,  kata mereka kepada Umar.

Umar kaget  dan berkomentar: “Itu perkara yang paling besar. Apa ada lagi ?” tanya Umar memancing.

“Kedua, dia tidak mau menerima seseorang bila malam hari”, sahut mereka.

“Itu urusan yang cukup serius. Apa ada lagi ?”, tanya Umar kemudian.

“Ketiga, sehari dalam sebulan, dia tidak mau keluar untuk menemui kami”, kata  mereka.

“Itu urusan yang cukup besar”, komentar Umar, “Lalu apa lagi ?”, tanya Umar penasaran.

“Keempat, sejak beberapa hari belakangan ini, dia seperti orang yang akan meninggal, selalu murung”, kata mereka.

Mendengar pengaduan mereka, Umar bersama mereka, segera mengkonfirmasi langsung kepada Sa’id., sebab Umar merasa telah mengangkat Sa’id dengan cermat berdasarkan usulan dan musyawarah para sahabat Nabi yang masih hidup. Kemudian, sebelum bertugas, Sa’id telah disumpah dan diperiksa kekayaannya lebih dulu. Dari itulah, ketika orang-orang mengadu tentang kepemimpinan Sa’id, Umar sangat masygul seraya memohon kepada Allah: “Ya Allah, jangan sampai pada hari ini anggapanku tentang Sa’id keliru”.

Dalam pertemuan antara gubernur Sa’id bin Amir dengan rakyatnya, Umar meminta rakyat Hims berkata jujur: “Sekarang sampaikan apa yang kalian keluhkan tentang diri  Sa’id”.

“Wahai Umar, dia selalu keluar rumah untuk menemui kami setelah hari sudah siang”, kata salah seorang penduduk Hims kepada Khalifah Umar.

Setelah dipersilahkan oleh Umar, Said lalu berkata: “Demi Allah, sebetulnya saya tidak suka untuk mengungkapkan hal ini. Mohon dimaklumi, keluargaku tidak punya pembantu, sehingga aku sendiri yang harus menggiling adonan roti (makanan pokok masyarakat Hims), dan mengambil air untuk berwudhu. Setelah itu, baru aku bisa keluar menemui mereka”, kata Sa’id menjelaskan.

Umar menanyakan lagi kepada penduduk Hims: “Apa keluhan kalian yang lain ?”.

“Dia tidak mau menemui seorang pun pada malam hari”, kata mereka.

“Lalu apa alasanmu ?”, tanya Khalifah Umar kepada Gubernur Sa’id.

“Sebenarnya aku tidak suka mengungkapkan hal ini. Aku telah menjadikan siang hari untuk mereka, dan menjadikan malam hari untuk beribadah kepada Allah”, kata Sa’id menjelaskan.

Umar menanyakan lagi kepada penduduk Hims: “Apa keluhan kalian yang lain ?”

“Satu hari dalam sebulan dia tidak mau keluar dari rumahnya untuk menemui kami”, kata mereka.

“Wahai Sa’id apa alasanmu terhadap masalah ini?”, tanya Umar.

“Aku tidak punya seorang pembantu yang mencuci pakaianku. Juga tidak punya pakaian pengganti, sehingga pada hari itu aku mencuci pakaian yang cuma satu-satunya itu”,  kata Sa’id apa adanya.

Umar menanyakan lagi kepada penduduk Hims: “Apa keluhan yang lain dari kalian ?”.

“Beberapa hari belakangan ini, dia seperti orang yang akan meninggal, selalu murung”, kata mereka.

“Wahai Sa’id apa alasanmu sehingga berbuat demikian ?”, tanya Umar.

Sa’id lantas menceritakan pengalamannya di masa lalu sebelum masuk Islam: “Dulu aku menyaksikan terbunuhnya Hubaib al-Anshari di Makkah”, kata Sa’id. “Aku melihat langsung orang-orang Quraisy menyayat-nyayat kulit dan daging Hubaib, dan membawa tubuhnya ke tiang gantungan. Setelah itu, orang-orang kafir Quraisy bertanya kepadaku: ‘Apakah kamu suka  jika Muhammad menggantikan dirimu saat ini ?’. Aku menjawab: ‘Demi Allah, sekalipun aku berada di tengah-tengah keluarga dan anak-anakku, aku tidak ingin Muhammad Shalllahu ‘alaihi wasallam terkena duri’.

Aku lalu berseru ‘Hai Muhammad’. Dan aku tidak ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya pada hari itu. Aku sendiri waktu itu masih dalam keadaan musyrik, belum beriman kepada Allah Yang Maha Agung, dan aku tidak berusaha untuk menolongnya. Karena tindakanku seperti itu, aku beranggapan Allah tidak akan mengampuni dosa-dosaku.

Dari itulah pada hari-hari terakhir ini, aku selalu termenung sendirian. Orang-orang melihat aku seperti orang yang akan meninggal”, kata Sa’id mengenang masa lalunya yang kelam.

Mendengar pengakuan Gubernurnya itu, Umar terharu sekali dan berkata: “Segala puji hanya bagi Allah karena firasatku tentang diri Sa’id tidak meleset”.

Umar kemudian memberikan uang kepada Sa’id seribu dinar: “Pergunakan uang ini untuk menunjang tugas-tugasmu”, kata Umar kepada Sa’id.

 

Memperhatikan Wong Cilik

Tatkala melihat suaminya mendapatkan uang seribu dinar dari Khalifah Umar bin Khattab, istri Sa’id gembira bukan main, dan berkata kepada suaminya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kecukupan kepada kita, atas tugas yang kakanda tunaikan”.

“Apakah adinda mau yang lebih baik lagi ?”, tanya Sa’id kepada istrinya. “Jika mau, kita akan memberikan uang ini kepada orang yang lebih membutuhkan dari kita”, kata Sa’id kemudian.

“Silahkan, kalau memang itu kehendak kakanda”, jawab istrinya tulus.

Gubernur Sa’id lalu memanggil salah seorang saudaranya untuk membagi-bagikan uangnya kepada fakir miskin, janda, dan keluarga yang sedang terkena musibah. Setelah terbagi semua, ternyata masih ada yang tersisa. Istri Sa’id lalu bertanya: “Wahai kakanda, mengapa tidak digunakan untuk mendapatkan seorang pembantu yang akan meringankan pekerjaan kita. Bukankah masih ada sisanya ?”.

“Percayalah, sewaktu-waktu tentu ada orang yang lebih membutuhkannya”, jawab Sa’id tenang.

Istri Sa’id pun diam, memahami sikap suaminya yang tidak mau dibebani oleh harta, karena di akhirat kelak, harta itu hanya akan merepotkan dalam pertanggung-jawabannya kepada Allah.

Demikian sikap dan sifat pemimpin sejati: sederhana, jujur, dan selalu memperhatikan rakyatnya, apalagi terhadap kaum dhu’afa.

Allah a’lam bish-showaba

Tulisan dari Badruzzaman Busyairi (Allahu Yarham)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *