Beberapa Perkara/ Hal Yang Membatalkan Puasa Tinjauan 4 Madzhab

Asalamualaykum ikhwani wa ahwati fillah. Pada kesempatan ini, kita akan membahas mengenai beberapa hal yang sering menjadi perbincangan di tengah-tengah umat mengenai puasa, baik itu puasa wajib di bulan ramadhan ataupun puasa sunnah. Salah satu yang jadi perbincangan adalah bukan saja mengenai amala yang perlu dilakukan saat sedang puasa khususnya di bulan Ramadhan, melainkan juga mengenai perkara atau hal-hal yang membatalkan puasa ditinjau dari 4 madzhab juga seringkali diperbincangkan. Posting kali ini bukan membahas satu persatu madzhabnya, melainkan kesamaan dalam keempat madzhab dalam menilai perkara atau hal yang membatalkan puasa, baik puasa ramadhan khususnya ataupun puasa sunnah

Baik satu persatu kita bahas, pertama mulai dari madzhab. Madzhab disini yang dimaksud adalah ulama besar yang dinilai mendalam ilmunya mengenai hukum-hukum Allah.Yang menarik adalah kedalaman ilmu mereka tidak menjadikan mereka congkak dan paling benar, bahkan jika ada yang tidak sesuai dengan apa yang dituntun oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, maka janganlah dipegang pendapatnya. Baiklah, 4 imam Madzhab ini antara lain :

Biografi ringkasnya adalah Imam Syafi’I bernama langkap Muhammad bin Idris bin Al-`Abbas bin `Usman bin Syafi` bin As-Sa’ib dan nasabnya sampai kepada `Abdu Manaf datuk Nabi. Dan ibunya masih merupakan cicit Ali bin Abi Thalib r.a. Beliau dilahirkan di desa Gaza, masuk kota ‘Asqolan pada tahun 150 H/767 M. Kepiawaiannya dalam ilmu agama salah satunya dengan hafalnya Al Quran di usia 7 tahun.

Biografi ringkasnya, Imam Malik bernama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris Al Asbahi. Beliau digelar Syaykhu l-Islam, Hujjatu l-Ummah, dan Imam Daru l-Hijrah. Ayahnya ialah Abu `Abdi Llah, Ibunya bernama `Aliyah binti Syarik Al-Azdiyyah. Beliau dilahirkan di Madinah pada tahun 93H/713M. Keseriusannya dalam mendalami ilmu agama salah satu buktinya adalah jumlah guru yang mengajarinya ilmu agama sejumlah 900.

Biografi ringkasnya, Imam Malik bernama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris Al Asbahi. Beliau digelar Syaykhu l-Islam, Hujjatu l-Ummah, dan Imam Daru l-Hijrah. Ayahnya ialah Abu `Abdi Llah, Ibunya bernama `Aliyah binti Syarik Al-Azdiyyah. Beliau dilahirkan di Madinah pada tahun 93H/713M,

Salah satu karya besar beliau adalah Al Musnad yang memuat empat puluh ribu hadits. Disamping beliau mengatakannya sebagai kumpulan hadits-hadits shahih dan layak dijadikan hujjah, karya tersebut juga mendapat pengakuan yang hebat dari para ahli hadits. Selain al Musnad karya beliau yang lain adalah : Tafsir al Qur’an, An Nasikh wa al Mansukh, Al Muqaddam wa Al Muakhar fi al Qur’an, Jawabat al Qur’an, At Tarih, Al Manasik Al Kabir, Al Manasik Ash Shaghir, Tha’atu Rasul, Al ‘Ilal, Al Wara’ dan Ash Shalah

Biografi ringkasnya, Imam Abu Hanifah bernama lengkap An-Nu`man bin Sabit bin Zuta At-Taymiy.Imam Abu Hanifah adalah pengasas Mazhab Hanafi. Beliau dilahirkan pada tahun 80 Hijrah (699 Masehi) di sebuah perkampungan bernama Anbar di sekitar bandar Kufah, Iraq. Beliau hidup di zaman pemerintahan Khalifah Abdul Malik Bin Marwan, Khalifah Bani Umaiyah yang kelima. Beliau berketurunan Farsi dan ayahnya seorang peniaga kain.

Salah satu cara dia dalam berpendapat ialah ia mengandalkan Fatwa sahabat (Aqwal Assahabah) karena mereka semua menyaksikan turunnya ayat dan mengetahui asbab nuzulnya serta asbabul khurujnya hadis dan para perawinya. Sedangkan fatwa para tabiin tidak memiliki kedudukan sebagaimana fatwa sahabat.

Setelah secara ringkas mengetahui 4 imam madzhab untuk mengetahui mengapa pendapat mereka pantas dijadikan untuk semua hal dalam beragama khususnya perkara yang membatalkan puasa dikarenakan insyaAlloh sesuai tuntunan Al-Quran & Sunnah. 

Kita harus mengetahui bahwa puasa, terlebih puasa ramadhan yang sifatnya wajib, tentunya harus dijaga dan bukan hanya sebatas menahan lapar dan haus, melainkan juga kita harus mengejar kebaikan dan pahalanya, jangan sampai kecolongan atau batal.

Berikut Ini Beberapa Perkara/ Hal Yang Membatalkan Puasa

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam” [Al-Baqarah : 187]

Dari situ jelas bahwa makan dan minum menjadi salah satu pembatal puasa, terkecuali bila ia sedang lupa. Bila ternyata ia lupa, maka hendaknya ia melanjutkan puasanya kembali karena sesuai dengan hadits dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam :

“Jika lupa sehingga makan dan minum, hendaklah menyempurnakan puasanya. Karena sesungguhnya Allah SWT yang memberinya makan dan minum” (HR. Bukhari-Muslim)”

Meski terbilang tidak masuk melalui kerongkongan sebagaimana makanan dan minuman, infus termasuk didalamnya adalah zat yang mendatangkan energi bahkan energi pengganti selain makanan bagi orang sedang sakit, oleh karenanya hal itu termasuk membatalkan puasa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنِ اسْتَقَاءَ فَليَقْضِ

“Barangsiapa yang terpaksa muntah, maka tidak wajib baginya untuk mengqadha’ puasanya, dan barangsiapa muntah dengan sengaja, maka wajib baginya mengqadha’ puasanya” [HR Abu Dawud]

 

Perintah mengqadha’ puasa terdapat dalam riwayat Mu’adzah, dia berkata. : Aku pernah bertanya kepada Aisyah : ‘ Mengapa orang haid mengqadha’ puasa tetapi tidak mengqadha shalat?’ Aisyah berkata : ‘Apakah engkau wanita Haruriyyah (Orang yang berakidah khawarij), Aku menjawab : ‘Aku bukan Haruri, tapi hanya (sekedar) bertanya’. Aisyah berkata : ‘Kamipun haidh ketika puasa, tetapi kami hanya diperintahkan untuk mengqadha puasa, tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat” [Hadits Riwayat Bukhari 4/429 dan Muslim 335]

Dari sini jelas bahwa adanya perintah dalam qadha puasa menjadikan puasa tersebut batal atau tidak terhitung.

Bila melakukan jima (hubungan badan) di bulan ramadhan sangat berat, yakni harus membayar denda/ kafarat. Bisa berupa memberi makan 60 orang miskin 2 bulan berturut-turut, atau membebaskan budak. Meskipun kondisi kaya raya, ini jelas bukan merupakan pilihan untuk dilakukan sehingga berani membatalkan puasa ramadhan.

Untuk info lebih lengkap, silahkan lihat video berikut ini dari Ustadz Adi Hidayat.

Baik itu saja, semoga bermanfaat bagi kita semua dalam mengetahui perkara atau hal yang membatalkan puasa. Semoga bermanfaat, bila ada kekeliruan mohon dimaafkan dan diluruskan. Jika bermanfaat dan berkenan silahkan di share untuk menambah jariah dan investasi amal sholeh kita di akhirat. Wassalamualaykum Warahmatullah Wabarakatuh.

* Beberapa sumber mensadur dari Almanhaj.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *